Bolehkah Suami Istri Bertengkar?

bolehkah suami istri bertengkar?

konflik keluarga

Konflik terjadi saat dua orang mempunyai perbedaan pendapat yang tidak mencapai kata sepakat. Hal ini terjadi saat anda dan pasangan tidak sependapat dalam mengambil suatu keputusan bersama. Saat pertingkaian berubah menjadi pelecehan dalam perkataan atau secara fisik, hal itu menjadi tidak sehat untuk sebuah pernikahan. Apabila anda konsisten menyerang pasangan dengan mengatakan, “Aku menyesal menikahi kamu”, “Kamu sangat bodoh”, dan “Aku benci kamu”, anda sudah berpindah dari sekedar bertengkar menjadi melecehkan.

Apabila anda melemparkan benda ke pasangan anda—bantal, alat makan, lukisan, vas bunga—itu hanya memunculkan lebih banyak konflik dan sakit hati. Jadi, jangan pernah melempar, memukul, mendorong, menendang, meludahi pasangan anda. Itu adalah pelecehan fisik. Selain tidak bermoral dan ilegal, hal itu juga menyebabkan kerusakan hebat bagi hubungan anda. Jika ini cara anda menyelesaikan konflik, anda perlu konselor untuk belajar cara menangani perbedaan pendapat yang benar.

Namun, cara yang benar dalam menangani masalah dalam keluarga juga tidak berarti menutupi pebedaan, melainkan menyelesaikannya dengan jujur. Banyak pasangan berusaha mengesampingkan atau menyembunyikan konflik karena menghindari silang pendapat justru dapat berujung pertengkaran yang menyakitkan. Hal itu menyebabkan beberapa pasangan berpikir bahwa pertikaian mereka tidak normal.

Seorang suami, sebut saja Paul, menutupi konflik karena dia takut bertengkar. Paul bercerita kepada teman-teman dekatnya, “Aku jatu cinta dengan Lusi karena kami tidak pernah bertengkar sebelum kami menikah. “Aku sangat takut perceraian. Orangtuaku bertengkar terus dan akhirnya mereka bercerai. Apabila Lucy dan aku terus bertengkar, aku takut kami akan berakhir seperti orangtuaku”.

Berbeda dengan apa yang khawatirkan Paul, perceraian umumnya terjadi justru saat konflik disembunyikan atau tidak diselesaikan. Berbeda jika konflik dibicarakan secara terbuka. Konflik sendiri tidak membawa pada perceraian. Tidak adanya penyelesaian konfliklah, yang mengakibatkan perceraian atau membuat pernikahan menjadi tidak bahagia.

Penyelesaian konflik mungkin terlihat rumit, tetapi hal itu dapat diselesaikan. Itu merupakan keahlian yang membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak dan dapat disempurnakan dengan latihan.

Berikut ini 10 hal yang dapat anda ingat menganai bagaimana menangani konflik tanpa harus bertengkar:

1. Selesaikan setiap perbedaan pendapat secepat mungkin.

Hadapilah masalah tersebut di saat masalah itu muncul. Semakin lama konflik di pendam, konflik akan semakin besar dan waktu cenderung memperbesar rasa sakit hati. Seperti ada tertulis: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26).

2. Jadilah spesifik.

Komunikasikan  dengan jelas masalah yang ada. Jangan pukul rata atau mengeneralisir dengan menggunakan kata seperti “tidak pernah” atau “selalu.” Saat anda tidak mengungkapkannya dengan jelas, pasangan anda akan menebak-nebak masalahnya. Cobalah katakan, “Sayang, Aku kesal kalau pada hari senin kamu tidak membawa sampah keluar,” dari pada berkata, “Kamu tidak pernah melakukan apa yang kamu bilang akan kamu lakukan” atau “setiap hari senin kamu tidak pernah membawa sampah-sampah ini ke luar’ atau juga, “kamu selalu saja begitu, tidak menaruh barang itu pada tempatnya.”

3. Tekankan masalahnya, bukan orangnya.

Menyerang dengan kata-kata membuat pasangan anda terluka dan menjadi tertutup. Hal ini tak akan pernah menyelesaikan konflik. Tujuan anda dalam menyelesaikan konflik adalah rekonsiliasi, bukan mengadili pasangan anda. Biarkan pasangan anda mendengar masalahnya dari sudut pandang anda. Katakan sesuatu seperti, “Aku merasa kesal karena tagihan tidak terbayar tepat waktu,” daripada mengatakan, “kamu sangat tidak bertanggung jawab dan malas. Kamu tidak pernah membayar apa pun tepat waktu.”

4. Ekspresikan perasaan Anda.

Gunakan kata “Saya” sebagai subjek untuk membagikan sudut pendang anda mengenai masalahnya: “saya  merasa terluka saat kamu tidak mau melakukan bagianmu.” “Saat kamu menyindirku di depan teman-temanmu, itu membuatku marah.” Hindari menggunakan “kamu” sebagai subjek untuk pernyataan, seperti, “kamu sangat tidak peka dan suka memerintah.”

 5. Selesaikan dulu masalah yang ada saat ini, satu persatu.

Kebanyakan orang hanya dapat menyelesaikan satu masalah pada satu waktu. Sayangnya, banyak suami istri membawa dua atau tiga masalah saat bertikai, dan mencoba untuk memaksakan pengertian mereka. Hal ini membingungkan dan tidak menghasilkan kesepakatan, serta penyelesaian. Akan lebih baik mengatakan, “Saat kamu tidak menyertakan aku dalam percakapan dengan teman-temanmu saat makan malam, hal itu sangat menyakitkanku,” daripada mengatakan, “Kamu tidak pernah melibatkan siapapun, kamu selalu memikirkan dirimu sendiri. Setiap saat kita bersama orang lain, kamu selalu mengabaikan aku. Semua orang berpikir kamu sangat egois.”

6. Tegurlah secara pribadi.

Menegur di depan orang banyak akan membuat suami atau istri anda merasa dipermalukan atau terhina. Hal tersebut akan membuat dia menutup diri dan memadamkan keinginannya untuk berdamai.

7. Cobalah mengerti sudut pandang suami atau pun istri

Cobalah memposisikan diri pada posisi suami atau istri, itu akan membantu anda belajar lebih mengerti pasangan anda. Itulah yang dilakukan Mia saat dia bercerita kepada adiknya, “Jeff mengalami masalah di kantornya. Bosnya memarahi dia. Itu sebabnya dia memilih diam dari biasanya, jadi aku tidak mau mempermasalahkan hal itu. Aku tahu saat aku mengalami hal yang sama, aku membutuhkan waktu untuk sendiri.”

8. Buatlah rencana pemecahan

Setelah anda sudah membagikan pandangan masing-masing dan saling mengerti, ceritakan kebutuhan anda dan putuskan langkah yang akan diamabil. Itu dapat berupa perkataan seperti “Lain kali, akan sangat membantu bila kita mendiskusikan bersama bagaimana kita akan membelanjakan uang tabungan kita, bukannya memberitahuku sesudahnya.”

9. Bersedialah mengakui ketika anda salah.

Terkadang, konflik terjadi karena periaku salah satu dari anda tidak sesuai. Anda harus mau mengakui dan meminta maaf kepada pasangan apabila anda bersalah terhadapnya. Proses tersebut akan membantu menyembuhkan luka dalam hubungan anda. Cobalah mengucapkan sesuatu seperti, “Maafkanlah aku karena kasar padamu. Maukah kamu memaafkanku?” apabila anda menjadi pihak yang dirugikan, bermurah hatilah untuk menerima permintaan maaf dari pasangan anda.

10. Ingatlah selalu bahwa mempertahankan hubungan jauh lebih penting dari pada memenangkan pertengkaran.

Memenangkan pertingkaian dengan pengorbanan hubungan adalah kekalahan bagi anda berdua. Mencari penyelesaian yang mengunungkan anda berdua berarti semua menang.

Bagaimana jika anda berdua rasanya tidak dapat menemukan solusinya? Apabila anda tidak dapat menyelesaikan sebuah konflik spesifik, carilah pertolongan dari konselor (Gembala, Guru Injil, atau penginjil). Pertengkaran memang tidak sehat, tetapi konflik tidak selalu buruk. Bahkan dapat menjadi sarana untuk menguatkan hubungan. Saat konflik ditangani dengan benar, kedua pihak menceritakan isi hati mereka, mencoba mendengarkan dan didengarkan, membawa hubungan ketingkat yang lebih dalam. Saat anda menyelesaikan konflik dengan cara yang penuh perhatian dan positif, hasilnya adalah hubungan yang lebih dalam dan keintiman yang lebih besar.

“Apabila kamu marah, janganlah berbuat dosa.” Tuhan tahu bahwa kita akan mengalami kemarahan dan konflik dalam hubunga. Tetapi kemarahan bukanlah sebuah dosa selama kita masih mencari penyelesaian konflik tersebut.

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Daripada bertengkar, apakah anda melakukan bagian anda untuk memperbaiki dan memulihkan hubungan dengan pasangan anda?

 Judul asli: Marriage and Conflict, Oleh: Sheryl DeWitt.

Portions of this answer originally appeared in The Complete Guide to the First Five Years of Marriage, a Focus on the Family Book published by Tyndale House Publishers. Contributing author Sheryl DeWitt. Copyright © 2006, Focus on the Family.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order