Bertobat Di Kayu Salib

Beberapa orang mungkin berkata-kata enak sekali menjadi penjahat yang disalib bersama dengan Yesus itu. Bertobat langsung masuk ke surga.

“Coba kalau kita bisa bersenang-senang sepuasnya dulu di dunia, lalu sebelum mati baru kita bertobat”, kelakar seorang teman.

Pertanyaannya, benarkah penjahat itu bertobat secara “enak”? Kita lihat dulu dari sisi Tuhan Yesus. Penampilan-Nya saat itu betul-betul tak menjanjikan. Dia lebih mirip seorang pesakitan daripada seorang Juru Selamat. Selain kondisi fisik-Nya yang begitu buruk dan mengerikan, ejekan, olok-olok, dan hujatan pun menimpa-Nya secara bertubi-tubi. Si penjahat sendiri juga sedang menanggung penyaliban.

Penyaliban diakui sebagai bentuk hukuman mati yang paling keji dan paling menyiksa. Kesengsaraan yang diakibatkannya berlangsung secara pelan, tetapi pasti. Penderitaannya seakan tidak berujung.

Seseorang menulis, “Dalam keadaan seperti itu, Anda cuma bisa berdoa atau mengutuk.” Akan tetapi, si penjahat memilih untuk mengamati Si Terhukum di sebelahnya, mencerna pembicaraan orang tentang-Nya, dan membantah hujatan penjahat lain terhadap-Nya. Dan, akhirnya ia pun sampai pada pengakuan bahwa Si Terhukum ini sejatinya adalah Sang Raja!

Apakah Anda akan mengatakan bahwa itu keputusan yang diambil secara gampang dan “enak”? Pertobatan, dari sudut pandang manusia, tidak pernah enak. Itu berarti meninggalkan keinginan egois agar kita dapat menyambut kehendak Tuhan. Siapa yang melakukannya, tanpa harus mati dulu seperti si penjahat, maka ia akan menemukan Firdaus lambang sukacita yang paling dalam hari ini juga. Bersediakah Anda?

Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”
(Lukas 23:42)

Sumber: Renungan Harian