Bahaya Toleransi ala Post-Modern

toleransi baru

toleransi baru post-modern

By Dr. John MacArthur.

Orang Kristen sejatinya adalah umat yang paling toleran di dunia. Alkitab mengajarkan untuk mengasihi sesama, menghormati sesama, bahkan mendoakan musuh-musuhnya. Namun, TOLERANSI yang dipahami sebagian besar orang bukan lagi toleransi sejati yang sejak dulu kita kenal. Toleransi yang dianut mayoritas orang saat ini adalah toleransi buatan post-modern, yang sengaja diciptakan untuk melawan kebenaran Alkitab (editor).

Di zaman sekarang ini, semakin sedikit umat Kristen yang berani berdiri teguh dalam mempertahankan kebenaran Firman Tuhan dan resikonya sangat merusak kwalitas kehidupan di dunia ini. Hal-hal yang subjektif, tidak rasional, keduniawian, ketidakpastian, kompromi dan kemunafikan sudah dianggap biasa di kalangan gereja yang mana dulunya mengajarkan dan sangat menekankan pentingnya ketaatan pada Firman Tuhan atau Alkitab.

Di zaman post-moderen ini, TOLERANSI (toleransi baru versi post-modern, yang tidak lain adalah nama baru utk dosa kompromi) adalah kebajikan atau hikmat yang paling utama yang sering dibicarakan orang pada umumnya. Orang yang toleran selalu dianggap sebagai orang yang berpikiran luas, bebas, humanis—kecuali Kekristenan yang alkitabiah. Menurut mereka perintah-perintah Yesus Kristus terlalu susah, keras, kaku, dan tidak relevan di zaman post-modern ini.

Di era post-modern ini, satu hikmat yang bernilai paling tinggi dan dapat diterima semua orang adalah TOLERANSI. Kenyataannya, toleransi mungkin dalam waktu dekat bisa menjadi satu-satunya nilai sosial yang bisa diterima oleh semua orang. Banyak nilai-nilai tradisional seperti rendah-hati, pengendalian diri, kesederhanaan, ketulusan dan kesucian telah menghilang dari, dan nilai-nilai yang hakiki ini dilarang keras karena dianggap sebagai perusak dan bersifat menyerang.

Sebaliknya, kesenangan dan keuntungan dari toleransi yang dulunya pernah dilarang, sekarang sangat disarankan. Apa yang dulunya dinyatakan sebagai hal-hal yang tidak bermoral, karena toleransi, sekarang menjadi hal-hal yang bisa diterima, bahkan dibanggakan. Pernikahan beda iman, Perselingkuhan, perceraian, bahasa-kotor, penghujatan, aborsi, homoseksualitas, perzinahan, segala tingkah laku yang aneh dan semua aktifitas seksual di luar pernikahan yang oleh organisasi sosial dan masyarakat pada umumnya adalah hal-hal yang perlu dan  bisa diterima demi kebersamaan dan kedamaian di dunia ini.

Konsep kebersamaan atas nama toleransi di zaman moderen ini sebenarnya sudah merubah arti sebenarnya dari moralitas. Jadi sudah tidak ada lagi yang “tabuh” atau dilarang di Zaman ini kecuali hal itu berbicara mengenai perbedaan agama, berbeda pendapat atau penegakan nilai-nilai moral sesuai Alkitab yang dulunya sangat dihargai banyak kalangan.

Dan yang sangat ironi adalah ke-TIDAK TOLERANSI-an terhadap nilai-nilai moral Kekristenan justru diterima. Kenyataannya, banyak orang Kristen atau petinggi gereja-gereja yang justru menentang keberadaaan dan keagungan nilai-nilai kehidupan kekristenan yang alkitabiah. Sebagai contoh: Situs religioustolerance.com telah lama memukul keras dan menghantam lewat artikel-artikelnya yang menyalahkan konsep kehidupan orang-orang Kristen yang alkitabiah. Ini adalah situs anti-kristen yang paling menyakitkan untuk dibaca oleh kalangan Kristen sendiri.

Mengapa demikian? Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa keaslian nilai-nilai kekristenan Alkitab menjadi musuh umat manusia pada umumnya, bahkan dikalangan umat kristen sendiri yang menganut paham pluralisme agama?

Ini semua terjadi karena Firman Tuhan secara jelas dan tegas menyatakan tidak pernah setuju pada paham post-modern (pluralisme agama), yang menyatakan bahwa semua agama dan semua kepercayaan sama – berasal dari Tuhan yang sama.

Mari kita lihat 6 prinsip yang membedakan antara konsep Alkitab dengan konsep Toleransi yang diusung oleh POST-MODERENISME:

1.  OBJEKTIFITAS (mempunyai  maksud dan tujuan)

Kebenaran prinsip-prinsip kekristenan dimulai dari dasar pemikiran yang menyatakan bahwa ada sumber kebenaran di luar manusia. Firman Tuhan adalah kebenaran Objektif (Mazmur 119:160; Yohanes 17;17). Kebenaran objektif dan mutlak merupakan kebenaran yang tidak tergantung pada peraaan, hasrat, dan kepercayaan subjektif suatu ciptaan manapun. Kebenaran Allah tidak tergantung pada pengalaman atau penafsiran individu atau kelompok manapun. Kebenaran Allah adalah benar tanpa pengecualian. Kebenaran Allah juga tidak bersifat relatif, dapat berubah atau bisa diperbaiki.

Tentu saja generasi-genarasi zaman sekarang ini pada umumnya akan merasa risih dan marah akan pernyataan ini. Manusia pada umumnya hanya mencari dan menemukan kebenaran dari dalam diri mereka sendiri tanpa melihat kehebatan kebenaran Tuhan di luar dirinya. Walaupun mereka menggali arti dari Firman Tuhan, pada umumnya mereka hanya pergi sejauh apa arti kata dari Firman Tuhan tersebut, mereka tidak pernah mau menerima bahwa Firman Tuhan adalah unik (bisa cocok dan bisa memenuhi kebutuhan) untuk setiap jenis manusia yang pernah hidup di dunia ini.

Kekristenan yang autentik (asli dan benar) melihat Firman Tuhan sebagai Rahasia illahi dari kebenaran keberadaan Tuhan. Firman Tuhan adalah perkataan dan perintah Tuhan untuk kehidupan manusia. Maksud dan tujuan dari Firman Tuhan itu sendiri telah ditentukan oleh Tuhan, jadi bukan sesuatu cerita atau kumpulan kata-kata yang bisa diartikan berbeda-beda sesuai dengan kehendak manusia yang membacanya.

2.  RASIONALITAS (masuk akal)

Kekristenan yang alkitabiah juga didasarkan pada hukum yang mana Rahasia Illahi dari kebenaran Firman Tuhan adalah masuk akal. Alkitab sangat logis. Isinya kata-katanya tidak berlawanan satu sama lainnya, tidak ada kesalahan di dalamnya dan tidak mengandung prinsip-prinsip yang membingungkan. Yang ada adalah seringkali disalah-pahami oleh manusia yang membacanya. Oleh karena itu semua prinsip-prinsip yang ada di dunia yang berlawanan dengan prinsip-prinsip Alkitab adalah ke-TIDAK BENAR-an.

Dasar bahwa kebenaran Firman Tuhan/Alkitab yang masuk di akal ini memang sangat mengganggu dasar pemikiran para pengikut paham post-modern ini. Dunia ini mengajarkan untuk saling berdamai tanpa perbedaan, menerimah sesuatu yang aneh, mustahil dan yang tidak rasional, rasakanlah apa yang anda pikir (dari pada pikirkan apa yang anda rasakan). Semua konsep yang memaksakan ke-tidak-masuk-diakal ini adalah tidak lain dari bentuk perlawanan atau penolakan tanpa alasan kepada kebenaran Firman Tuhan. Ada pembrontakan secara sengaja dan aktif kepada Tuhan yang bekerja dibalik penerimaan konsep TOLERANSI versi Post-modern ini.

Sebagai seorang Kristen, kita tahu bahwa Tuhan tidak bisa bohong (Titus 1:2). Tuhan tidak bisa saling bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Kebenaran adalah sifat Tuhan itu sendiri. Pernyataan “jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak” sangat berlawanan dengan sistem TOLERANSI ala Postmodern. Itulah sebabmya kelompok ini menolak untuk bertoleransi dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan.

3.   VERASITI (jujur dan teliti)

Kekristenan yang autentik didasarkan pada kepastian dan keyakinan bahwa maksud dan arti Firman Tuhan (alkitab) secara masuk diakal menyediakan kebenaran Illahi yang dengan sempurnanya sudak cukup untuk memenuhi kehidupan manusia. Semua yang harus kita ketahui tentang kehidupan jasmani dan rohani sudah ada dalam Alkitab. Kita tidak perlu lagi mencari prinsip-prinsip ketuhanan atau kesuksesan hidup dari sumber-sumber lain yang bisa bersifat bias. Firman Tuhan tidak hanya menyeluruh, tetapi juga memberikan standar yang sangat tinggi dan luar biasa tentang moral dan kebenaran—hukum yang mana keakuratan setiap kata-katanya bisa dibuktikan.

Kenyataan dari keyakinan di atas inilah yang membuat marah orang-orang postmodern jika mereka berbicara tentang “Toleransi”. Itulah sebabnya prinsip kekristenan pada umumnya sulit untuk diterima dan sangat ditentang oleh kaum “toleransi ala posmodern”.

4.   OTORITAS (berwewenang dan berwibawa)

Karena kita sangat percaya bahwa Firman Tuhan adalah kebenaran mutlak, maka kita dengan penuh wibawa, penuh keyakinan, dan tegas mengajarkan setiap ajaran atau peraturan atau perintah Tuhan dalam Alkitab.

Alkitab menyatakan dengan bulat dan orang kristen yang beriman menekankan dengan tegas dan tanpa kompromi bahwa setiap kata demi kata dalam Alkitab adalah Firman Tuhan, yang Tuhan Inspirasikan lewat Nabi-nabi dan Rasul-rasul dan setiap kata-katanya mempunyai wewenang atau otoritas. Ini sebabnya Alkitab menjadi musuh besar bagi kaum “agama posmodern” yang percaya bahwa terkadang dosa bisa ditoleransi asal bisa diterima secara social.

5.  TIDAK TERBANDINGKAN

Ayat 1 Yohanes 2:21 berkata, “bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.” Sebagai seorang Kristen yang benar, kita tau bahwa apapun yang melawan atau berlawanan dengan kebenaran Firman Tuhan dapat diartikan sebagai sesuatu yang “SALAH”.  Dengan kata lain, Kebenaran tidak bisa disandingkan dengan kesalahan.

Yesus sendiri mengatakan “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Aku” (Yohanes 14:6). Kisah Para Rasul 4:12 berkata “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Pernyataan yang eksklusif ini jelas tidak bisa dicocok-cocokan dengan slogan “toleransi ciptaan post-modern.”

Terlebih lagi, orang kristen yang bertobat dan percaya mengerti bahwa apapun yang berlawaan (arti dan maksudnya) dengan Firman Tuhan dianggap membahayakan kebenaran itu sendiri. Jadi banyak orang Kristen yang memilih untuk menjauhkan diri dari hal-hal negatif yang mengarah pada dosa—dan pernyataan ini banyak ditentang oleh kaum post-modern yang menganut sistem “toleransi”

6.   INTEGRITAS (terpercaya mempunyai bobot kejujuran yang tangguh)

Orang Kristen yang alkitabiah melihat INTEGRITAS dirinya sebagai suatu “harga diri” terpenting dan KEMUNAFIKAN sebagai sifat yang paling buruk dan tidak boleh ada dalam dirinya. Cara berpikir inilah yang secara nyata berlawanan arah dengan “toleransi” nya orang post-modern dan inilah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mentoleransi cara berpikir dan kepercayaan kita.

Gereja-gereja sekarang ini telah bergerak semakin jauh dari 6 prinsip di atas dan secara perlahan telah mengkompromikan dirinya pada konsep “toleransi” post-modern tanpa alasan. Penginjilan telah kehilangan arah tujuannya dan gereja telah bertransformasi menjadi tempat pemenuhan keinginan kaum duniawi.

Yang terparah adalah bahwa orang-orang Kristen yang beriman alkitabiah pun tidak lagi berani melawan arus yang jahat ini. Pengaruh degradasi iman dalam umat Kristen yang sudah terjadi bertahun-tahun ternyata telah membawa efek yang sangat buruk dalam masyarakat kita pada umumnya. Keraguan, ketidak-rasionalan, keduniawian, kompromi, kemunafikan, yang dulu sangat ditentang oleh kalangan Kristen yang alkitabiah, kini telah menjadi hal yang wajar dan diperbolehkan oleh banyak gereja dan organisasinya.

Hanya ada satu cara untuk mengobati penyakit ini, yakni dengan cara ekstrim yaitu kita orang Kristen yang alkitabiah, bersama-sama dengan tegas dan kesadaran penuh menolak 100% penerimaan nilai-nilai palsu kaum “tolerant ala post-modern” dan kembali menjunjung tinggi nilai-nilai moral Alkitab, melaksanakannya dan dengan setia mempertahankannya sebagai  harta-karun kebenaran yang Tuhan telah percayakan kepada kita anak-anakNya. Kalau anda menolak cara ini, lalu dengan cara apalagi kita bisa mengalahkan kaum “tolerant” yang telah merajalela dan menghancurkan nilai-nilai kekristenan yang sesungguhnya. Dan kalau bukan anda, siapa lagi yang bisa melakukannya. Nasi sudah menjadi bubur, tetapi bukan berarti bubur itu tidak enak untuk dimakan.

Diterjemahkan oleh Hendra Wijaya, MBA

By Dr. John MacArthur. Adalah salah satu teolog yang paling disegani di dunia karena ketegasannya dalam mengungkapkan kebenaran dan kedalamannya dalam memahami kebenaran Alkitab. Ia adalah seorang gembala jemaat di Grace Community Church,  Sun Valley, California, Amerika Serikat. Presiden dari The Master’s College and Seminary, dan pembicara terkemuka dalam konfrensi besar dan seminar yang dihadiri puluhan ribu pemimpin-pemimpin gereja. Ia juga adalah seorang penulis buku-buku rohani yang memenangkan banyak penghargaan dan best-seller, antara lain: The Gospel According to Jesus in 1988, John has written nearly 400 books and study guides, including Our Sufficiency in Christ, Strange Fire, Ashamed of the Gospel, The Murder of Jesus, A Tale of Two Sons, Twelve Ordinary Men, The Truth War, The Jesus You Can’t Ignore, Slave, One Perfect Life, and The MacArthur New Testament Commentary series. John’s titles have been translated into more than two dozen languages. The MacArthur Study Bible, the cornerstone resource of his ministry, is available in English (NKJ, NAS, and ESV), Spanish, Russian, German, French, Portuguese, Italian, and Arabic with a Chinese translation underway.