Apakah Baptisan Menyelamatkan ?

1 Petrus 3:21-22 (TB) Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

Topik mengenai baptisan merupakan topik yang sampai sekarang masih hangat utk diperdebatkan. Gereja-gereja golongan tertentu memakai ayat ini untuk mendukung pengajaran mereka bahwa “Baptisan menyelamatkan.”

Menyelamatkan yang dimaksud oleh pihak tertentu ialah masuk Sorga. Gereja yang mengajarkan demikian percaya bahwa tanpa Baptisan, maka seseorang tidak bisa masuk Sorga. Konsekuensi dari pandangan ini ialah bahwa semakin cepat seseorang dibaptis, maka semakin cepat pula ia mendapat jaminan keselamatan. Dalam sejarah telah terbukti bahwa konsep ini mempelopori munculnya “Gerakan Pembaptis Bayi/ Pedo Baptis.” Jika ada seorang bayi yang telah lahir dan setelah beberapa hari di dunia kemudian meninggal tanpa sempat dibaptis, kelompok ini akan merasa sedih karena bayi yang meninggal pasti masuk Neraka.

Untuk itu sebagai orang Kristen, kita wajib mengetahui apa yang sebenarnya Rasul Petrus ingin ajarkan mengenai Baptisan. Apakah benar baptisan menyelamatkan? Benarkah tidak bisa masuk Sorga tanpa dibaptis?

Penjelasan :

1. Air Bah (ayat-ayat sebelumnya)
Rasul Petrus sebelum membahas mengenai Baptisan, terlebih dahulu ia membahas mengenai Air Bah. Dari sekian banyak keluarga dan manusia di muka bumi ini, hanya Nuh dan keluarganya yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Pada masa itu Tuhan menghukum semua manusia menggunakan Air Bah. Petrus membahas bahwa Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh Bahtera yang dibuat oleh Nuh selama 120 tahun sesuai Kitab Kejadian. Tanpa ada bahtera, pastilah Nuh dan keluarganya binasa oleh Air Bah yang begitu dahsyat dan berdurasi lebih dari 1 tahun. Tidak ada satu manusia pun yang tahan direndam air selama 1 tahun tanpa makan. Sudah pasti mati. Sudut pandang ini dari penulis kitab Kejadian, yaitu Musa.

Petrus menyoroti mengenai peristiwa Air Bah dari sudut pandang yang berbeda dengan Musa. Sudut pandang berbeda dalam hal ini tidak menimbulkan kontradiksi, tetapi suatu paradoks. Petrus melihat bahwa justru Nuh dan keluarga diselamatkan oleh karena ada Air Bah. Tanpa ada Air Bah, Nuh dan keluarganya pasti masih tetap hidup bersama dengan orang-orang berdosa yang membuat Allah menyesal menciptakannya. Jika Nuh dan keluarganya masih tinggal dengan orang berdosa, kemungkinan Nuh dan keluarganya bisa berbuat dosa, menjadi lebih besar. Mungkin saja dari sekian banyak manusia yang hidup pada masa itu, tidak akan selamat karena telah habis tertimpa Air Bah. Petrus melihat bahwa dengan adanya Air Bah membuat Nuh dan keluarganya terpisah dari orang-orang berdosa. Air Bah membawa keterpisahan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Inilah pandangan yang dimiliki oleh Rasul Petrus.

Musa menekankan Bahtera yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Rasul Petrus menekankan bahwa Air Bah yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Pandangan ini seolah terlihat berbeda tetapi tidak bertentangan melainkan saling melengkapi. Jadi, Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh Air Bah dan Bahtera.

2. Baptisan
Pada bagian ini, kita harus tetap membawa pola pandangan Rasul Petrus terhadap Air Bah ke Baptisan. Karena Petrus ingin mengaitkan peristiwa Air Bah dengan Baptisan. Petrus juga ingin menyatakan hal lain dengan sudut pandang yang sama mengenai Air Bah. Air Bah menurut pandangan Rasul Petrus menyelamatkan Nuh dan keluarganya​ dari hukuman Allah dan orang-orang berdosa. Baptisan menyelamatkan dengan cara memisahkan orang percaya dari orang berdosa.

Terpisah dari orang-orang berdosa melalui baptisan maksudnya ialah bahwa baptisan menjadi syarat masuk ke dalam jemaat. Orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus tetapi belum dibaptis tidak bisa disebut sebagai jemaat. Sebutan yang cocok ialah orang percaya. Baptisan memiliki 2 fungsi yang harus dimengerti oleh orang Kristen :

1. Sebagai tanda pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus (Kis 2:37-38)

2. Sebagai syarat masuk ke dalam suatu jemaat
Kisah Para Rasul 2:41 (TB) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Sebelum Petrus berkhotbah jumlah jemaat yang tergabung sekitar 120 orang saja. Setelah Petrus selesai berkhotbah dan Para Rasul membaptiskan mereka, maka jumlah jemaat bertambah sekitar 3000an jiwa.

Jadi maksud Rasul Petrus pada ayat itu ialah :

Sebagaimana Air Bah menyelamatkan Nuh dengan cara memisahkan mereka dari orang-orang berdosa. Demikianlah baptisan juga menyelamatkan dengan cara memisahkan orang percaya dari orang berdosa (masuk ke dalam suatu jemaat). Rasul Petrus tidak mengajarkan dibaptis supaya masuk Sorga tetapi dibaptis supaya masuk jemaat (dipisahkan dari orang berdosa). Dengan cara masuk jemaat, maka orang percaya mendapatkan penguatan atas iman dan pengetahuan Firman Tuhan.

Catatan :

1. Alkitab tidak mengajarkan Baptisan Bayi/ Pedobaptis. Baptisan bisa dilakukan jikalau yang bersangkutan telah :
a. Bertobat
b. Percaya kepada Yesus
c. Memberi diri dibaptis

Kisah Para Rasul 2:37-38 (TB) Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

2. Baptisan kepada orang yang sekarat di rumah sakit malah membuat dia masuk Neraka. Karena telah menambahkan syarat keselamatan. Praktek ini sering dilakukan oleh banyak gereja-gereja. Tanpa mereka sadari, praktek tersebut mengakibatkan kebinasaan alias masuk Neraka. Syarat diselamatkan dalam Alkitab ialah Pertobatan yang disertai Iman kepada Yesus Kristus. Menambahkan syarat keselamatan dengan Baptisan merupakan contoh masalah yang sama dengan jemaat Galatia, yaitu Sunat.

Galatia 5:4 (TB) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.