Alpha Course Sedang Membangun Persatuan Gereja Sedunia

Alpha Course, sebuah program penginjilan interdenominasi, telah berkembang secara fenomenal sejak permulaannya di awal 1990an. Lebih dari 18 juta orang telah berpartisipasi dalam program ini di 169 negara, dan materi-materinya telah diterjemahkan ke dalam 112 bahasa. Program ini dilahirkan oleh gereja Anglikan Holy Trinity Brompton yang kharismatik di London, Inggris, dan pengembangnya, Nicky Gumbel, mengatakan bahwa ia mengalami “aliran listrik yang besar melalui” tubuhnya pada tahun 1994 ketika fenomena “laughing revival” (kebangkitan rohani tertawa) terjadi di gerejanya. Satu orang terlempar ke seberang ruangan dan terbaring di lantai sambil berteriak-teriak dan tertawa, yang lain lagi terbaring di lantai dengan kakinya di udara, tertawa seperti hyena, sementara yang lainnya “mabuk.”

Alpha Course memasukkan acara “Hari Roh Kudus” dengan tujuan menggiring para peserta kepada suatu pengalaman kharismatik, termasuk “bahasa lidah.” Gumble berkata bahwa bahasa lidah bermula dengan kosa kata yang terbatas dan akan “berkembang”(Questions of Life, hal. 147), tetapi tentu saja kita tidak menemukan hal seperti ini dalam Kitab Suci. Para Rasul tidak perlu mengikuti kelas berbahasa lidah untuk mempersiapkan diri menjelang hari Pentakosta!

Alpha Course adalah suatu program yang ekumenis radikal yang sedang membantu membangun “gereja” esa-sedunia akhir zaman. Gumble mengatakan: “Kita perlu bersatu … gerakan Roh selalu menyatukan gereja-gereja. Dia sedang melakukan itu antar denominasi dan tradisi-tradisi … Orang-orang tidak lagi “melabel” diri sendiri atau orang-orang lain” (Renewal, Mei 1995, hal. 16).

Tahun lalu, Gumble membuat pernyataan berikut: “Alpha bergerak di setiap cabang Gereja. Kami bertumbuh paling cepat di gereja Katolik. …program ini berjalan persis sama, tidak peduli denominasinya. Apa yang menyatukan kita jauh lebih besar daripada yang memisahkan kita. Kami berfokus pada apa yang menyatukan kita. Kami menyampaikan suatu front yang bersatu kepada dunia. Dalam setiap bagian tubuh Kristus yang berbeda – Presbyterian, Baptis, Lutheran, non-denominasi, Katolik, Pantekosta, Ortodoks Bulgarian, Ortodoks Koptik – Alpha menjembatani semua perbedaan” (“The Alpha Course: An International Phenomenon,” WillowCreek.org, Maret 2012).

Program Alpha telah mencapai penerimaan ekumenis yang sedemikian luas karena ia lemah secara doktrinal. Program ini menyinggung tentang keselamatan, salib, kematian Kristus, dan lainnya, tetapi dengan cara yang tidak jelas sehingga doktrin sesat tidak terbongkar. Misalnya, program ini mengatakan bahwa keselamatan adalah “melalui kasih karunia,” tetapi tidak mengatakan bahwa keselamatan adalah melalui HANYA kasih karunia oleh iman saja, melalui darah Kristus SAJA tanpa pekerjaan baik atau sakramen. Tentu saja juga, tidak ada sedikitpun deklarasi tentang kesesatan-kesesatan dan penghujatan-penghujatan Roma.

Ketika Gumble ditanya mengenai apakah Alpha Course kadang-kadang “mencuri orang-orang Katolik,” ia menjawab, “Tidak! Ketika mereka datang ke Alpha saya mengatakan kepada mereka: jangan datang ke Holy Trinity Brompton, tetapi kembalilah ke gereja Katolikmu. Katolik adalah bagian dari Gereja dan saya mengasihi seluruh Gereja” (“Alpha Male,” The Spectator, 12 Des. 2012).

Alpha juga adalah kekuatan besar dalam bidang Musik Penyembahan Kontemporer.

EDITOR: Salah satu kesalahan yang bersumbangsih kepada kekacauan ini adalah doktrin gereja yang salah. Secara populer banyak yang berpegang kepada konsep gereja universal, bahwa “gereja” adalah seluruh orang percaya di dunia. Padahal arti kata ekklesia adalah suatu kumpulan orang, yang berarti haruslah lokal. Dalam skema gereja universal, denominasi-denominasi menjadi bagian-bagian “tubuh” yang berbeda. Mungkin Baptis adalah tangan, Presbyterian kaki, Anglikan mulut, dan lain sebagainya. Ini adalah konsep yang sangat salah. Paulus menjelaskan tentang jemaat yang adalah tubuh dalam 1 Korintus 12, dan mengacu kepada jemaat adalah individu-individu dalam sebuah jemaat lokal yang diibaratkan bagian-bagian tubuh yang berbeda oleh Rasul Paulus.

Sumber: Way of Life / Graphe Ministry