10 Pertanyaan Kunci yang Biasa Diajukan Oleh Orang-Orang yang belum bertobat

Q & ABy Dr. Norman Geisler & David Geisler.

1. Tidak masalah apa yang Anda percayai selama Anda tulus, berniat baik dan tidak menyakiti orang.

Jawab: Orang dapat melakukan sesuatu dengan niat baik tanpa menyadari bahwa ia sedang melakukan kekeliruan. Percaya dengan tulus pada sesuatu yang tidak bisa dibuktikan bukanlah tindakan yang bijak dalam bidang kehidupan mana pun, apalagi untuk hal yang berakibat abadi.

Misalnya kita bisa bertanya, “Apa yang Anda maksud dengan niat baik? Apakah niat baik menjamin hasil akhirnya pasti baik? Bagaimana Anda menjelaskan apa yang Anda maksud dengan tidak menyakiti seseorang? Bagaimana Anda tahu bahwa kepercayaan Anda tidak akan menyakiti orang lain?”  Yang sangat penting bukanlah niat baik dan ketulusan kita, melainkan apa yang kita percayai. Niat baik dan ketulusan tidak menjamin kebenaran.

Para teroris yang menghancurkan gedung WTC, dan meledakkan gedung-gedung yang lain memiliki niat yang sangat baik, menurut mereka. Namum niat mereka salah. Jadi, karena apa yang kita percayai itu sangat penting maka kita harus menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

2. Apa yang istimewa dengan kepercayaan Kristen? Saya pikir, semua agama pada dasarnya mengajarkan hal yang sama.

Jawab: Kita balik bertanya kepada mereka, apakah sama jika ajaran satu dengan yang lainnya berbeda. Kristen mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh hanya dengan bertobat dan percaya (beriman) kepada Yesus Kristus. Islam mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh dengan percaya kepada Allah, Mohammad, amal dan perbuatan baik. Hindu percaya bahwa keselamatan diperoleh dengan mengatasi karma dan inkarnasi melalui berbuat baik. Agama Budha percaya bahwa keselamatan datang dari matinya keinginan melalui delapan jalan mulia.

Alkitab mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yg harus disembah, sedangkan Alquran mengutuk keras orang-orang yang menganggap Isa Almasih sebagai Tuhan dan hanya menganggap Isa sebagai manusia utusan Allah. Begitu juga ajaran agama dan kitab suci yang lain terhadap Yesus Kristus.

Belum lagi perbedaan-perbedaan yang sangat jauh mengenai etika moral. Agama Islam membolehkan suami beristri empat, sedangkan ajaran Kristen menegaskan bahwa suami hanya boleh memiliki seorang istri. Dan masih banyak lagi.

Prinsipnya, kita tidak bisa menganggap semua kepercayaan sama-sama benar karena tiap-tiap kepercayaan akan menyalahkan pernyataan dalam kepercayaan yang lain.

Memang benar dalam beberapa hal semua agama memiliki kesamaan, tetapi juga dalam beberapa hal yang sangat penting, jelas berbeda dan bertentangan satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, kesamaan hanya mungkin terjadi jika masing-masing mengubah isi kepercayaannya, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tidak mengakui kebenaran absolut.

3. Bagaimana Anda bisa membuat pernyataan hanya ada satu jalan menuju Allah? Tidakkah Anda bersikap anggkuh dan ekslusif?

Jawab: Pertama, Orang Kristen memang seharusnya tidak bersikap angkuh karena kepercayaan yang dimilikinya. Kedua, Kita balik bertanya, “Apa yang Anda maksudkan dengan sksklusif? Apakah kita harus terbuka terhadap apa pun?” Menjadi eksklusif tidaklah selalu merupakan hal yang buruk.

Ketika kita menikah, bukankah kita membuat diri kita menjadi eksklusif, dengan menolak memiliki hubungan intim dengan semua orang lain yang berbeda jenis dengan kita? Bukankah itu adalah sesuatu yang baik dilakukan dalam sebuah pernikahan?

Jadi, menjadi eksklusif bisa saja merupakan hal yang sangat baik. Tergantung hal apa yang kita terima dan mengapa kita menerimanya, kemudian hal pa yang kita tolak dan mengapa kita menolaknya.

Untuk menyingkirkan kepercayaan yang salah ini, kita bisa bertanya demikian:

  • “Tidak mungkinkah bagi seorang Kristen untuk mempercayai sesuatu yang sangat berbeda, namun tetap toleran dengan kepercayaan orang lain?”
  • “Menurut Anda apakah Anda juga tidak toleran ketika menolak pandangan saya?”
  • “Ketika kita mengetahui bahwa seseorang salah, dan memberitahukan apa kesalahannya, apakah itu berarti kita sedang bersikap menghakimi?”

4. Bagaimana dengan mereka yang tidak pernah mendengarkan injil?

Jawab: Jarang sekali ada orang menanyakan pertanyaan ini karena ingin mengetahui lebih lanjut tentang Injil. Biasanya pertanyan ini diajukan hanya suatu pengalih dari kebenaran Injil. Kita bisa menanyakan, “Sekarang setelah Anda mengetahui kebenaran, Apa yang akan Anda lakukan?

Untuk menjawab masalah ini, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan yang lebih besar tentang siapa diri-Nya ketika kita belum menanggapi pengetahuan yang telah kita miliki. Roma 1 mengajar kita bahwa semua orang memiliki sejumlah pengetahuan akan Allah (wahyu umum), meskipun itu bukan pengetahuan yang menyelamatkan.

Wahyu umum (Alam semesta/ciptaan) diberikan Tuhan untuk menuntun seseorang kepada wahyu khusus – Alkitab. Melalui wahyu khusus, kita akan mengetahui Injil, dan Injil tersebut akan menyelamatkan kita (Markus 1:15; 1 Korintus 15:2).

5. Tidak masalah Anda mempercayai apa pun selama Anda tidak mencoba mengubah keyakinan orang lain mengikuti Anda.

Jawab: Pertama, kita perlu memeriksa pemikiran yang ada di balik pertanyaan ini. Orang mungkin berpikir bahwa mencoba mengubah pandangan atau keyakinan orang lain adalah cermin dari sikap angkuh dan pandangan yang sempit. Kita harus menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang dimaksud dengan mengubah keyakinan. Beberapa pertanyaan tambahan yang bisa ditanyakan adalah:

  • ‘Apakah menurut Anda persuasi atau usaha meyakinkan seseorang untuk mengubah pikiran mereka selalu salah?”
  • “Bagaimana Anda menentukan bahwa meyakinkan seseorang untuk memercayai sesuatu itu benar atau salah?
  • “Apakah Anda berkeinginan mengubah pandangan saya mengikuti Anda jika Anda pikir saya ini salah?”

Bukankah suatu kejahatan jika kita tahu seseorang sedang dalam bahaya kesesatan tetapi kita sengaja membiarkannya?

Mengubah keyakinan orang tidaklah selalu buruk. Tindakan tersebut bahkan dapat merupakan suatu perwujudan kasih (misalnya, alkohol, obat terlarang, dan kebiasaan buruk lainnya).

6. Dapatkah Anda membuktikan kepada Saya bahwa Allah ada?

Jawab: Agar pemikiran mereka terlihat lebih jelas kita dapat bertanya, “Apa yang Anda maksud dengan bukti?” Lalu kemudian kita dapat bertanya, “Apa Anda Pada meminta saya untuk menunjukan alasan-alasan yang baik untuk mempercayai keberadaan Allah?”

Ada tiga hal yang dapat membuktikan bahwa Tuhan itu ada:

  • Alam Semesta membuktikan bahwa ada pencipta dibalik semua itu. Dunia ini bukan ada dengan sendirinya melainkan dirancang dan diciptakan (Mazmur 19:2; Roma 1:19-20).
  • Hati nurani manusia mengakui ada pribadi yang berkuasa di atas segalanya. Itu sebabnya, kita menemukan ada banyak kepercayaan-kepercayaan bangsa primitive yang menyembah sesuatu, entah itu Batu, Pohon atau Binatang.
  • Moralitas yang ada pada manusia juga menceritakan kepada kita bahwa ada pribadi yang menghendaki nilai-nilai kebenaran dilakukan. Naluri alami manusia menghendaki hal-hal yang baik dan menolak hal-hal yang buruk.

7. Jika Allah itu berbelas kasih, bagaimana bisa ada neraka?

Jawab: Kebenaran utama yang Kita ingin mereka pahami di sini adalah: neraka ada karena Allah berbelas kasih. Untuk menolong orang mengerti kebenaran ini, anda dapat bertanya:

  • “Jika surga adalah sebuah tempat di mana orang menyembah Allah, dan Anda tidak menikmati melakukannya, Allah macam apakah yang akan memaksamu melakukan hal itu selama-lamanya? Allah yang tidak punya belas kasih, bukan?”
  • “Bukankah bisa disebut neraka jika Allah memaksa seseorang untuk mengasihi dan menyembah Dia?”
  • “Saya yakin Anda akan sependapat bahwa Allah tidaklah berbelas kasih jika Dia memaksa semua orang percaya kepada Kristus tanpa memperdulikan apakah mereka mau atau tidak.”

Satu analogi tentang pernikahan menunjukkan bahwa seseorang tidak dapat memaksa orang lain untuk menikahinya apabila orang itu tidak ingin membuat komitmen menikah. Ada juga beberapa alasan yang baik akan keberadaan neraka. Misalnya, tanyakan:

  • “Bagaimana Anda bisa percaya pada konsep keadilan jika tidak ada penghukuman atas perbuatan yang salah?”
  • “Apakah Anda percaya Hitler, Nero, semasa hidupnya, sudah menerima semua hukuman atas segala kejahatannya? Jika belum, bagaimana Hitler dan orang-orang seperti dia akan dihukum atas segala kejahatan yang telah mereka lakukan jika tidak ada neraka di kehidupan mendatang?

8. Mengapa tidak lebih dari satu Allah?

Jawablah dengan menggunakan prinsip bumerang dan bertanya: “Dalam hal apa anda pikir bahwa pribadi Allah yang mahakuasa dapat memiliki keterbatasan?” dan “Apa yang bisa membatasi Allah yang mahakuasa?” Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut, tentu saja adalah…… tidak ada sesuatu pun!

Jika ada lebih dari satu Allah yang kekal dan tak terbatas, tidakkah mereka harus berbeda satu sama lain? Tidak berbeda sedikitpun (berlawanan dengan berbeda sedikit) adalah cara lain untuk mengatakan tidak berbeda sama sekali.

Berbeda sedikit, berarti sesuatu harus memiliki kualitas yang tidak dimiliki oleh yang lain. Yang satu adalah Tuhan, yang lain bukan. Oleh karena itu, hanya ada satu Tuhan yang tak terbatas, tak berubah, dan kekal selamanya, bukan dua atau lebih.

9. Bagaimana mungkin ada Allah yang berbelas kasih ketika ada banyak kejahatan dan penderitaan di dunia?

Jawab: Untuk menjawabnya, kita harus mendefinisikan kejahatan dan penderitaan dengan bertanya kepada mereka, “Apakah yang Anda maksud dengan kejahatan? Mungkinkah mengetahui kejahatan tanpa mengetahui standar kebaikan?”

Kebaikan itu ada karena Tuhan menciptakan manusia yang berkehendak bebas, kejahatan muncul bersamaan sebagai akibat dari kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada manusia. Artinya, Jika Tuhan harus menyingkirkan kejahatan di dunia, berati Tuhan harus menciptakan manusia yang tidak memiliki kehendak bebas. Bukankah dengan menciptakan manusia yang sepenuhnya dikontrol oleh Tuhan merupakan pemaksaan? Jadi, kejahatan ada karena adanya kebaikan. Mana yang Anda pilih?

10. Bagaimana saya bisa memilih Kristus ketika leluhur saya yang telah meninggal dunia terpisah dari-Nya dan bisa terpisah dari saya?

Jawab: Pertanyaan ini menggambarkan sebuah halangan yang paling sulit bagi Kristus di dalam budaya yang mempraktikan pemujaan leluhur. Konsekuensinya, sangat penting bagi kita untuk memberikan jawaban yang sudah dipikirkan baik-baik atas pertanyaan ini. Berikut beberapa jawaban yang disarankan.

Kita bisa menanyakan, “Apakah Anda yakin betul bahwa leluhur Anda terpisah dari Kristus?” Kita mungkin berpikir bahwa kita tahu kondisi rohani seseorang, tetapi kita hanya melihat luarnya saja, sementara Allah melihat hati (1 Sam 16:7).

Penting bagi kita untuk bersikap peka, menyadari apa yang seharusnya tidak kita katakan. Kita tidak seharusnya mengajukan pertanyaan seperti ini, “Mengapa Anda membiarkan keputusan orang lain memengaruhi kebahagian abadi Anda?”

Dalam budaya di mana ada penyembahan leluhur, pertanyaan seperti itu tidak akan membantu karena keputusan biasanya bukan didasarkan pada apa yang baik bagi seseorang secara pribadi melainkan bagaimana akibatnya pada seluruh keluarga. Keputusan yang di ambil berdasarkan keinginan pribadi, dipandang sangat egois dalam budaya Timur. Beberapa pertanyaan yang memasukkan unsur kepedulian pada keluarga akan bermanfaat, misalnya:

  • “Jika leluhur Anda tahu apa yang sekarang ini anda ketahui tentang siapa Yesus, apa yang akan dinasihatkan mereka kepada Anda?”
  • “Tahukah Anda bahwa Alkitab juga membicarakan mengenai masalah ini? Dalam Lukas 16, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang kaya memohon kepada seorang pengemis bernama Lazarus, yang telah meninggal, untuk memperingatkan saudaranya tentang neraka.

Ini mungkin memunculkan pertanyaan berikut, “Bagaimanakah mungkin kita bahagia di surga, sementara orang yang kita cintai ada di neraka?” Ada sebuah asumsi serius di sini bahwa kita lebih berbelas kasih ketimbang Allah, padahal Tuhan memiliki belas kasih yang tidak terbatas.

Lagi pula, Allah berbahagia di surga, dan Dia tahu bahwa tidak semua orang akan ada di sana. Selain itu, jika kita tidak berbahagia di surga karena kita tahu orang yang kita cintai tidak ada di sana maka kita telah meletakkan kebahagiaan kita di tangan orang tersebut.

Diadaptasi dari oleh Eva Susanty dari buku Conversation Evangelism.

Dr. Norman Geisler adalah seorang apologet ternama dan pembicara terkemuka. Ia adalah presiden dari Southern Evangelical Seminary dan penulis lebih dari lima puluh buku, termasuk Deside for Yourself, Baker Encyclopedia of Apologetics, dan When Skeptics Ask.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order